GRESIK – Perayaan Idul Adha di RT 02/RW 05 Kampung SIBA KLASIK, Kelurahan Sidokumpul, Kabupaten Gresik, tahun ini tampak berbeda. Alih-alih dipenuhi tumpukan kantong plastik, suasana pembagian daging kurban justru terlihat rapi dan ramah lingkungan. Warga setempat sukses menerapkan konsep zero waste atau minim sampah dalam proses penyembelihan hingga distribusi daging kurban.
Sejak Rabu (27/5/2026) pagi, area sekitar Langgar Maslakul Inayah dipadati warga yang membawa perlengkapan dari rumah, mulai dari ember, baskom, rantang, hingga kotak makanan berbahan guna ulang. Tidak ada plastik sekali pakai yang disediakan panitia untuk membungkus daging.
Ketua RT 02, Saifudin Efendi yang akrab disapa Ipung, mengungkapkan bahwa inisiatif ini lahir dari keprihatinan warga terhadap gunungan sampah plastik yang selalu menumpuk setiap tahun usai perayaan kurban.
”Setiap tahun plastik menumpuk setelah pembagian daging. Tahun ini warga sepakat mengganti dengan wadah guna ulang, supaya lingkungan tetap bersih dan tradisi ibadah kurban berjalan lebih bijak,” ujar Ipung saat ditemui di lokasi.
Inovasi ini tidak hanya sebatas penggunaan wadah. Panitia kurban bersama remaja musala, karang taruna, dan ibu-ibu setempat juga menyiapkan titik pemilahan sampah organik dan nonorganik. Sisa pakan ternak, daun pembungkus, hingga limbah organik hasil penyembelihan dikumpulkan secara terpisah untuk kemudian diolah menjadi kompos.
Ketua Takmir Langgar Maslakul Inayah, Ahmad Efendi, menambahkan bahwa keterlibatan seluruh elemen warga menjadi kunci keberhasilan gerakan ini.
”Kami ingin ibadah kurban tetap berjalan dengan lingkungan yang terjaga. Warga pun lebih disiplin karena sudah membawa wadah sendiri sesuai data yang didaftarkan sebelumnya,” tutur Efendi.
Penerapan pola zero waste ini mendapat respon positif dari warga. Nur Aini, salah seorang warga, mengaku pembagian daging dengan sistem bawa wadah sendiri justru terasa lebih praktis dan higienis.
”Biasanya habis kurban banyak plastik tercecer di selokan. Sekarang jauh lebih rapi dan nyaman,” ungkapnya.
Gerakan di Kampung SIBA KLASIK ini kini menjadi inspirasi baru bagi wilayah lain di Gresik dalam mengelola sampah rumah tangga berbasis komunitas.
Ipung menegaskan, pola ini akan dipertahankan pada kurban tahun-tahun mendatang, sekaligus memperluas pemanfaatan limbah organik kurban sebagai pupuk untuk tanaman di lingkungan kampung.
Dengan langkah sederhana ini, warga Kampung SIBA KLASIK membuktikan bahwa tradisi gotong royong dan kesadaran lingkungan bisa berjalan selaras, menciptakan Idul Adha yang lebih bermakna dan bersih.


