GRESIK – Sebanyak 16 delegasi dari Asian Organization of Supreme Audit Institutions – Working Group on Environmental Auditing (ASOSAI WGEA) bersama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia melakukan kunjungan kerja ke smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik.
Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian agenda Kick-Off Meeting ASOSAI WGEA 7th Cooperative Environmental Audit yang berlangsung di Surabaya pada 2–4 Juni 2026.
Para auditor dari berbagai negara, termasuk Tiongkok, Papua Nugini, Oman, Myanmar, dan Pakistan, hadir untuk mempelajari langsung tata kelola sumber daya mineral, proses pemurnian bernilai tambah, hingga aspek keberlanjutan lingkungan di industri pertambangan.
Wakil Presiden Direktur PTFI, Jenpino Ngabdi, menyambut hangat kehadiran para delegasi. Menurutnya, kunjungan ini merupakan pengakuan atas komitmen perusahaan dalam menjalankan praktik pertambangan terintegrasi dari hulu ke hilir yang patuh pada regulasi dan berwawasan lingkungan.
”Kami sangat terhormat menerima kunjungan ini. Kehadiran para delegasi merupakan bentuk pengakuan terhadap implementasi good governance serta komitmen kami dalam menjalankan praktik pertambangan terintegrasi hulu-hilir yang berkelanjutan,” ujar Jenpino dalam sesi paparannya.
Dalam kesempatan tersebut, Jenpino menjelaskan secara rinci alur operasional PTFI, mulai dari aktivitas penambangan, pengolahan bijih, hingga proses pemurnian di smelter. Fokus utama pemaparan terletak pada bagaimana perusahaan menjaga keseimbangan antara produktivitas ekonomi dan standar perlindungan lingkungan.
Salah satu delegasi yang hadir, Moeed Ali, Direktur Jenderal Audit (Perubahan Iklim dan Lingkungan) dari Lembaga Pemeriksa Keuangan Negara (SAI) Pakistan, memberikan apresiasi tinggi terhadap operasional PTFI.
”Saya melihat yang dilakukan PTFI merupakan pencapaian yang luar biasa. Perusahaan ini mampu menunjukkan keseimbangan antara kontribusi terhadap penerimaan negara dan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan,” ungkap Moeed Ali.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan BPK RI menyatakan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas auditor negara dalam memahami audit sektor publik. BPK berharap, pengalaman langsung di lapangan ini dapat memperkaya perspektif para auditor tentang bagaimana pengelolaan sumber daya alam yang akuntabel dapat dijalankan secara optimal.
Usai sesi diskusi, para delegasi meninjau langsung fasilitas Smelter PTFI. Mereka berkesempatan melihat dari dekat proses pemurnian mineral, penerapan teknologi modern, serta standar keselamatan kerja yang diterapkan di area pabrik pemurnian tersebut. Kunjungan ini diharapkan menjadi tolok ukur bagi praktik pertambangan ramah lingkungan yang dapat diterapkan di negara-negara anggota ASOSAI lainnya.
