GRESIK, Nusadata.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik terus memacu langkah dalam upaya percepatan penurunan angka stunting. Terbaru, Pemkab Gresik menggelar kegiatan Sinkronisasi Program dan Pendampingan Web Pelaporan Aksi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (Web Bangda) Tahun 2026 di Ruang Mandala Bhakti Praja, Kantor Bupati Gresik, Rabu (17/6/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum krusial bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Langkah ini diambil sebagai strategi utama dalam mengejar target prevalensi stunting nasional sebesar 14,2 persen pada tahun 2029.
Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, yang membuka kegiatan tersebut menegaskan bahwa penanganan stunting bukanlah tanggung jawab satu instansi semata. Ia menekankan pentingnya kerja kolektif yang melibatkan pemerintah daerah, kecamatan, desa, tenaga kesehatan, hingga keterlibatan dunia usaha dan masyarakat.
”Ini bukan pekerjaan satu OPD atau sektor kesehatan saja. Penurunan stunting adalah kerja bersama yang membutuhkan komitmen seluruh pihak. Kabupaten, kecamatan, hingga desa harus bergerak dalam satu arah dan terkoordinasi,” tegas Wabup Alif dalam arahannya.
Wabup Alif menambahkan, pemerintah saat ini tengah melakukan transformasi pendekatan dalam aksi konvergensi, yakni beralih dari orientasi proses administrasi menuju fokus pada hasil atau dampak nyata (outcome-based). Penggunaan sistem pelaporan berbasis Web Bangda dioptimalkan agar seluruh intervensi lebih terukur dan tepat sasaran.
”Kita tidak boleh hanya berfokus pada output kegiatan. Hal yang paling penting adalah dampaknya; apakah angka stunting benar-benar turun dan status gizi anak membaik. Jika tidak ada dampak, maka program harus dievaluasi,” imbuhnya.
Di tempat yang sama, Kepala Bappeda Kabupaten Gresik, Edi Hadisiswoyo, menjelaskan bahwa sinkronisasi ini bertujuan untuk menyelaraskan upaya dari hulu ke hilir. Mulai dari analisis situasi, perencanaan, hingga monitoring dan evaluasi.
”Pemanfaatan Web Bangda menjadi instrumen vital dalam mendukung keterpaduan data. Dengan sistem ini, intervensi dapat dipantau secara lebih akuntabel dan berbasis data, sehingga kolaborasi antara pemerintah daerah, puskesmas, hingga desa menjadi lebih efektif,” papar Edi.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Gresik tercatat sebesar 15,2 persen. Melalui komitmen yang tertuang dalam Nawakarsa Kabupaten Gresik, pemerintah optimis mampu menekan angka tersebut hingga mencapai 14,2 persen pada 2029 dan terus ditekan hingga 14 persen pada 2030.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh perwakilan Bappeda Provinsi Jawa Timur, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, jajaran camat, kepala puskesmas, serta koordinator penyuluh KB se-Kabupaten Gresik
