GRESIK – Sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu akademik, tetapi juga fondasi awal dalam membangun kesadaran peserta didik terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Prinsip tersebut yang terus dipegang SMAN 1 Manyar (SMANEMA) Gresik dalam mengintegrasikan predikat Sekolah Adiwiyata Mandiri dengan program unggulan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Gresik, yakni Sekolah “Resik”.
Sinergi kedua program tersebut berhasil menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya bersih secara visual, tetapi juga kuat dari sisi sistem dan pembentukan karakter. Salah satu capaian paling menonjol ialah keberhasilan SMANEMA menekan volume sampah anorganik hingga 90 persen.
Memasuki area sekolah, pengunjung disambut suasana hijau dan asri yang menyejukkan. Kondisi tersebut merupakan hasil dari kampanye masif “Gerakan Zero Plastik” yang diterapkan sekolah. Seluruh warga sekolah diwajibkan membawa tumbler dan wadah makan pribadi guna mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Transformasi perilaku ini terbukti efektif. Kemauan kolektif untuk memutus ketergantungan terhadap plastik menjadi kunci dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,” ujar Kepala SMAN 1 Manyar, Ainur Rofik.
Tak hanya fokus pada kebersihan lingkungan, aspek keselamatan juga menjadi perhatian serius. Berdasarkan hasil pemantauan tim monitoring dan evaluasi Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Gresik yang dipimpin Priyandono, SMANEMA dinilai sigap dalam melakukan mitigasi risiko kebencanaan.
Sekolah telah menambah unit Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di sejumlah titik strategis serta menyusun Standard Operating Procedure (SOP) mitigasi kebencanaan sebagai langkah antisipasi.
Dari sisi sarana dan prasarana, SMANEMA juga melakukan standarisasi untuk mendukung digitalisasi pembelajaran. Instalasi listrik ditata sesuai standar PLN dengan menggunakan material berstandar SNI guna meminimalisasi risiko arus pendek, sehingga keamanan siswa selama proses belajar mengajar lebih terjamin.
Dalam pengelolaan laboratorium, sekolah menerapkan sistem penanganan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) secara terpisah dan terstruktur. Sementara itu, sampah organik diolah menjadi produk bernilai guna seperti eco-enzyme dan kompos. Sekolah juga memperluas pembuatan lubang biopori untuk meningkatkan daya resap air tanah sekaligus menjaga lingkungan tetap sejuk saat musim kemarau.
Kepala SMAN 1 Manyar, Ainur Rofik, menegaskan bahwa integrasi program Adiwiyata Mandiri dan Sekolah “Resik” merupakan investasi jangka panjang dalam membangun budaya sekolah yang sistematis dan berkelanjutan.
“Kami memastikan pendidikan kebencanaan, pengelolaan limbah B3, hingga ketahanan pangan melalui Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) menjadi satu kesatuan. Kami ingin lulusan SMANEMA memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk menjaga bumi,” tegasnya.
Langkah nyata tersebut membuktikan bahwa predikat Adiwiyata Mandiri bagi SMAN 1 Manyar bukanlah akhir dari pencapaian, melainkan titik awal untuk terus berinovasi demi masa depan generasi mendatang.
